Selasa, 07 Juni 2016

Suasana pertemuan terakhir matkul ict,semoga ilmu yang kita dapat dapat bermanfaat,amin amin ya rabbal alamin
A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kurikulum dapat diartikan dengan beragam variasi. Ada yang memandangnya secara sempit, yaitu kurikulum sebagai kumpulan mata pelajaran atau bahan ajar. Ada yang mengartikannya secara luas, meliputi semua pengalaman yang diperoleh siswa karena pengarahan, bimbingan dan tanggung jawab sekolah. Kurikulum juga diartikan sebagai dokumen tertulis dari suatu rencana atau program pendidikan, dan juga sebagai pelaksanaan dari rencana yang sudah direncanakan. Tidak semua yang ada dalam kurikulum tertulis, kemungkinan dilaksanakan dikelas. Kurikulum dapat mencakup lingkup yang sangat luas, yaitu sebagai program pengajaran pada suatu jenjang pendidikan, dan dapat pula menyangkut lingkup yang sempit, seperti program pengajaran suatu mata pelajaran untuk beberapa macam mata pelajaran. Apakah dalam lingkup yang luas atau sempit, kurikulum membentuk desain yang menggambarkan pola organisasi dari komponen-komponen kurikulum dengan perlengkapan penunjangnya. 2. Rumusan Masalah. a) Apa Pengertian dari Komponen Kurikulum? b) Apa saja Komponen-Komponen Kurikulum? 3. Tujuan Masalah Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca, dan pembaca dapat memahami apa yang dimaksud dengan komponen kurikulum dan mengetahui komponen-komponen penyusun kurikulum B. PEMBAHASAN a) Pengertian Komponen,Kurikulum Komponen adalah bagian yang integral dan fungsional yang tidak terpisahkan dari suatu sistem kurikulum karena komponen itu sendiri mempunyai peranan dalam pembentukan sistem kurikulum. Sebagai sebuah sistem, kurikulum mempunyai komponen-komponen. Seperti halnya dalam sistem manapun, kurikulum harus mempunyai komponen lengkap dan fungsional baru bisa dikatakan baik. Sebaliknya kurikulum tidak dikatakan baik apabila didalamnya terdapat komponen yang tidak lengkap sekarang dipandang kurikulum yang tidak sempurna. Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Komponen-komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain. Suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi. Kesesuaian meliputi dua hal. Pertama kesesuaian antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. Kedua kesesuaian antar komponen-komponen kurikulum, yaitu isi sesuai dengan tujuan, proses sesuai dengan isi dan tujuan, demikian juga dengan evaluasi sesuai dengan proses, isi dan tujuan kurikulum. b) Komponen-Komponen Kurikulum 1) TUJUAN Komponen tujuan adalah komponen kurikulum yang menjadi target atau sasaran yang akan dicapai dari pelaksanaan kurikulum. Tujuan kurikulum dapat dispesifikasikan ke dalam tujuan pembelajaran umum yaitu, berupa tujuan yang dicapai untuk satu semester, atau tujuan pembelajan khusus yang menjadi target pada setiap kali tatap muka. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu : • Tujuan Pendidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang dirumuskan oleh pemerintah dalam bentuk undan-undang. Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari system nilai pancasila dirumuskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. • Tujuan Institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan. Tujuan institusional merupakan tujuan antara tujuan khusus dengan tujuan umum untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jejnjang pendidikan tinggi. • Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang studi atau mata pelajaran. Tujuan kurikuler juga pada dasarnya merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan. Dengan demikian, setiap tujuan kurikuler harus dapat mendukung dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional. • Tujuan Pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan kurikuler, dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh anak didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satu kali pertemuan. Karena hanya guru yang memahami kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran disuatu sekolah, maka menjabarkan tujuan pembelajaran adalah tugas guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, tujuan-tujuan khusus lebih diutamakan, karena lebih jelas dan mudah pencapaiannya, karena ojektive dan bersifat operasional.Tujuan demikian akan menggambarkan “ what will the student be able to do as a result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree,1974:5) . 2) BAHAN AJAR Siswa belajar dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya, linkungan orang-orang, alat-alat, dan ide-ide. Tugas utama guru adalah menciptakan lingkungan tersebut, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. • Sekuens Bahan Ajar Untuk mencapai tiap tujuan mengajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajar. Bahan ajar tersusun dari topik-topik dan sub-subtopik tertentu. Tiap topic dan subtopic mengandung ide-ide yang relevan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Topic dan subtopic tsb tersusun dalam sekuens tertentu yang mebentuk suatu sekuens bahan ajar . Ada beberapa cara untuk menyusun sekuens bahan ajar, yaitu:  Sekuens kronologis; untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu. Seperti sejarah,pperkembangan historis suatu institusi dll  Sekuens Kausal; siswa dihadapkan pada peristiwa-peristiwa atau situasi yag menjadi sebab atau pendahulu dari suatu peristiwa atau situasi lain. Menurut Rowntree (1974: 75) “ sekuens kausal cocok untu menyusun bahan ajar dalam meteorology dan geomorfologi .  Sekuens structural; Bagian bgian bahan ajar suatu bidang study telah mempunyai struktur tertentu artinya disesuaikan dengan struktur bidang studi itu.  Sekuens logis dan psikologis ; Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks. Sedang menurut sekuens psikologi sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian, dari kompleks kepada yang sederhana.( Rowntree1974:77)  Sekuens spiral ; dikembangkan oleh Bruner(1960) , Bahan ajar dipusatkan pada topic atau pokok bahan tertentu. Dari pokok atau topik itu bahan di perluas dan diperdalam.(kompleks).  Rangkaian ke belakang(backward chaining)/ Regresif; langkah ini dimulai dengan langkah terakhir dan mundur kebelakang, seperti pada pelajaran sejarah.  Sekuens berdasarkan hierarki belajar ; prosedurnya adalah : tujuan khusus utama di analisis kemudian dicari urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan tsb. Yaitu apa yang mula-mula harus dikuasai siswa berturut-turut sampai perilaku terakhir. Disamping itu Drs.H. Syaifuddin Sabda.MAg dalam bukunya Model Kurikulum Terpadu Iptek & Imtaq juga terdapat macam-macam sekuen sbb:  Fragmented; yang berarti pemecahan yaitu pemisahan yang tegas antara berbagai bidang study.  Connected; atau penghubungan dalam model ini adalah dalam bentuk penghubungan topic dengan topic berikutnya,  Nested ; model nested juga masih dibangun dalam bentuk sparated subject matter(materi yang terpisah-pisah) oleh karena itu model ini dilakukan terbatas pada satu bidang studi saja.  Sequenced ; berarti urutan , penghubungan keduanya(antara dua bidang studi), namun masih terbatas dan belum benar-benar menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Seperti pada pelajaran IPA dan Agama Islam, ide atau konsep yang sama dasajikan pada waktu yang sama atau berdekatan.  Shared ; berarti kerjasama , maka pola sekuen pada materi dalam model ini ditur dengan cara menggabungkan materi yang ada pada dua bidang studi atau mata pelajaran baik itu konsep, sikap dan keterampilan yang memiliki kesamaan atau overlapping digabungkan untuk saling melengkapi dan mendukung.  Webbed; model ini menggabungkan berbagai mata pelajaran atau bidang studi dengan menggunakan sebuah tema subur(fertile theme) untuk menjaring konsep, topic dan ide-ide yang dianggap penting.  Threaded; berarti rangkaian , maka model sekuen ini merangkai berbagai materi bahasan pada berbagai bidang studi untuk melatihkan satu atau beberapa bentuk keterampilan(skill) seperti thingking skills, social skills, multiple intelegentces, technology and study skills.  Integrated; model ini melibatkan banyak mata pelajaran/bidang studi yang dikokohkan dalam sebuah team teaching. Model ini didesain dengan mencari konsep, skills dan attitudes yng operlaping pada berbagai mata pelajaran yang kemudian dijadikan sebagai prioritas.  Immersed; model ini berfokos pada pada kerja siswa/maha siswa(learner). Sekuens materi diatur secara mandiri oleh siswa/mahasiswa yang bersangkutan sesuai dengan topic dan rangkaian aktivitas kajian yang dipilih dan direncanakan.  Networked; model ini sama halnya dengan model Immersed hanya saja model ini melibatkan juga beberapa pakar yang terkait untuk mendukung proyek kajiannya . 3) STRATEGI MENGAJAR Ada beberapa strategi mengajar yang dapat digunakan dalam mengajar. Rowntree (1974: 93-97) membagi strategi mengajar menjadi : • Reception/ Exposition Learning – Discovery Learning(Ausubel and Robinson(1969 : 43-45). Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda pelakunya. Reception dilihat dari sisi siswa sedang exposition diihat dari sisi guru. Dalam kedua istilah ini keseluruhan bahan ajar disampaikan kepada siswa dalam bentuk akhir atau bentuk jadi, baik secara lisan maupun tertulis. Siswa tidak dituntut untuk mengolah maupun melakukan aktivitas lain kecuali menguasainya. Dalam discovery learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntuk untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan , menganalisis, mengintegrasikan dll. • Rote Learning- Meaningful Learning Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menghapal materi. Dalam meaningful learning penyampaian bahan mengutamakan maknanya bagi siswa. Yakni jika bahan ajar berhubungan dengan struktur kognitif yang ada pada siswa , yaitu terdiri atas fakta-fakta, data, konsep, preposisi, dalil, hukum dan teori-teori yang telah dikuasai siswa sebelumnya. • Group Learning- Individual lerning. Pelaksanaannya menuntut aktvitas belajar yang bersifat individual atau kelompok kecil.Strategi ini agak sukar jika dilaksanakan dikelas. Masalahnya karena kemampuan dan keceptan balajar tidak sama, masalah lain jika siswanya banyak mungkin ada yang hanya menunggu dan nonton saja. 4) MEDIA MENGAJAR Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Perumusan tersebut menggambarkan pengertian media yang cukup luas, mencakup berbagai bentuk perangsang belajar yang sering disebut audio visual aid, serta berbagai bentuk alat penyaji perangsang belajar, berupa alat-alat elektronika seperti mesin pengajaran, film, audio cassette, video cassette, televisi dan komputer. Macam-Macam Media Pengajaran: • Interaksi Insani Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku yang lainnya. Terutama kehadiran guru mempengaruhi perilaku siswa-siswanya. Interaksi insani dapat berlangsung melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi yang secara verbal memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam perkembangan segi kognitif siswa. Untuk pengembangan segi afektif, bentuk-bentuk komunikasi nonverbal seperti perilaku, penampilan fisik, roman muka, gerak-gerik, sikap dan lain-lain lebih memegang peranan penting sebagai contoh-contoh nyata. Intensitas interaksi insani dalam berbagai metode ceramah lebih rendah dibandingakn dengan metode diskusi, mainan, simulasi, sosiodrama, dan lain-lain. • Realita Realita merupakan bentuk perangsang yang nyata seperti orang-orang, binatang-binatang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa. Dalam interaksi insani siswa berkomunikasi dengan orang-orang, sedangkan dalam realita orang-orang tersebut hanya menjadi objek pengamatan, objek studi siswa. • Pictorial Media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat diatas kertas, film, kaset, dan media lainnya. Media pictorial mempunyai banyak keuntungan karena hampir semua bentuk, ukuran, kecepatan, benda, makhluk hidup, dan peristiwa dapat disajikan dalam media ini. Juga penyajiannya dapat bervariasi dari bentuk yang paling sederhana, seperti sketsa dan bagan sampai dengan cukup sempurna seperti film bergerak yang berwarna dan bersuara, atau bentuk-bentuk animasi yang disajikan dalam video atau komputer. • Simbol tertulis Simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Ada beberapa macam bentuk media simbol tertulis seperti buku teks, buku paket, paket program belajar, modul, dan majalah-majalah. Penulisan simbol-simbol tertulis biasanya dilengkapi dengan media pictorial seperti gambar-gambar, bagan, grafik, dan sebagainya. • Rekaman suara Berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara dapat disajikan secara tersendiri atau digabung dengan media pictorial. Penggunaan rekaman suara tanpa gambar dalam pengajaran bahasa cukup efektif. 5) EVALUASI Evaluasi adalah komponen kurikulum yang dapat diperbandingkan seperti halnya penjaga gawang dalam permainan sepak bola, memfungsikan evaluasi berarti melakukan seleksi terhadap siapa yang berhak untuk diluluskan dan siapa yang belum berhak diluluskan, karena itu siswa yang dapat mencapai targetlah yang berhak untuk diluluskan,sedangkan siswa yang tidak mencapai target (prilaku yang diharapkan) tidak berhak untuk diluluskan. Dilihat dari fungsi dan urgeni evaluasi yang demikian, Dari sudut komponen evaluasi misalnya, berapa banyak guru yang mengerjakan suatu mata pelajaran yang sesuai dengan latar belakang pendidikan guru dan ditunjang pula oleh media dan sarana belajar yang memedai serta murid yang normal. Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksaan mengajar secara keseluruhan. Setiap kegiatan akan memberikan umpan balik demikian juga dalam pencapaian tujuan-tujuan belajar dan proses pelaksanaan mengajar. Umpan balik tersebut digunakan untuk mengadakan berbagai usaha penyempurnaan baik bagi penentuan dan perumusan tujuan mengajar, penentuan sekuens bahan ajar, strategi, dan media mengajar. • Evaluasi hasil belajar mengajar Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan-tujuan khusus yang telah ditentukan, diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga evaluasi hasil belajar mengajar. Dalam evaluasi ini disusun butir-butir soal untuk mengukur pencapaian tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Untuk tiap tujuan khusus minimal disusun satu butir soal. Menurut lingkup luas bahan dan jangka waktu belajar dibedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif ditujukan untuk menilai penugasan siswa terhadap tujuan-tujan belajar dalam jangka waktu yang cukup pendek. Tujuan utama dari evaluasi formatif sebenarnya lebih besar ditujukan untuk menilai proses pengajaran. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah evaluasi formatif digunakan untuk menilai penugasan siswa setelah selesai mempelajari satu pokok bahasan. Hasil evaluasi formatif ini terutama digunakan untuk memeprbaiki proses belajar-mengajar dan membantu mengatassi kesulitan-kesulitan belajar siswa. Dengan demikian evaluasi formatif, selain sebagai fungsi menilai proses, juga merupakan evaluasi atau tes diagnostik. Evaluasi sumatif ditujukan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangkaa waktu yang cukup lama, satu semester, satu tahun atau selama jenjang pendididkan. Evaluasi sumatif mempunyai fungsi yang lebih luas dari pada evaluasi formatif. Dalm kurikulum pendidikan dasar dan menengah, evaluasi sumatif dimaksudkan untuk menilai kemajuan belajar siswa (kenaikan kelas, Kelulusan ujian) serta menilai efektifitas program secara menyeluruh. Untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan yang telah ditentukan atau bahan yang telah diajarkan ada dua macam, yaitu: Criterion Referenced dan Norm Referenced. Dalam Criterion Referenced, Yaitu penguasaan siswa yang diukur dengan sesuatu tes hasil belajar dibandingkan dengan sesuatu kriteria tertentu umpamanya 80% dari tujuan atau bahan yang diberikan. Dengan demikian dalam criterion referenced ada suatu kriteria standar. Dalam Norm Referenced, tidak ada suatu kriteria sebagai standar, penguasaan siswa dibandingkan tingkat penguasaan kawan-kawannya satu kelompok. Dengan demikian norma yang digunakan adalah norma kelompok, yang lebih bersifat relatif. Kelompok ini dapat berupa kelompok kelas, sekolah, daerah, ataupun nasional,. Dalm implementasi kurikulum atau pelaksanaan pengajaran, criterion referenced digunakan pada evaluasi formatif, sedangkan norm referenced digunakan pad evaluasi sumatif. • Evaluasi pelaksanaan mengajar Komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil belajar mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi komponen tujuan mengajar, bahan pengajaran (yang menyangkut sekuens bahan ajar), strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi mengajar sendiri. Dalam program mengajar komponen-komponen yang dievaluasi meliputi : komponen tingkah laku yang meliputi aspek-aspek (subkomponen): kognitif, afektif, dan psikomotor; komponen mengajar meliputi isi, metode, organisasi, fasilitas, dan biaya; dan komponen populasi mencakup: siswa, guru, administator, spesialis pendididkan, keluarga, dan masyarakat. Untuk mengevaluasi komponen-komponen dan proses pelaksanaan mengajar bukan hanya digunakan tes tetapi juga digunakan bentuk-bentuk nontes, seperti observasi, studi dokumenter, analisis hasil pekerjaan, angket dan checklist. Evaluasi dapat digunakan oleh guru atau pihak-pihak lain yang berwenang atau diberi tugas, seperti kepala sekolah dan pengawas, tim evaluasi kanwil atau pusat. Sesuai dengan prinsip sistem, evalasi dan umpan balik diadakan secara terus menerus, walaupun tidak semua komponen mendapat evaluasi yang sama kedalaman dan keluasannya. Karena sifatnya menyeluruh dan terus menerus tersebut maka evaluasi pelaksaan sistem mengajar dapat dipandang sebagai monitoring. 6) PENYEMPURNAAN PENGAJARAN Hasil-hasil evaluasi, baik evaluasi hasil belajar meupun evaluasi pelaksanaan pengajaran secara keseluruhan, maupun umpan balik bagi penyempurnaan-penyempurnaan lebih lanjut. Komponen apa yang disempurnakan, dan bagaimana penyempurnaan tersebut dilakukan? Sesuai dengan komponen-komponen yang dievaluasi, pada dasarnya semua komponen mengajar mempunyai kemungkinan untuk disempurnakan. Suatu komponen mendapatkan prioritas lebih dahulu atau mendapatkan penyempurnaan lebih banyak, dilihat dari peranannya dan tingkat kelemahannya. Penyempurnaan juga memungkinkan dilakukan secara langsung begitu didapatkan sesuatu informasi umpan balik, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu bergantung pada urgensinya dan kemungkinannya mengadakan penyempurnaan. Penyempurnaan mungkin dilakukan sendiri oleh guru, tetapi dalm hal-hal tertentu mungkin dibutuhkan bantuan atau saran-saran orang lain baik sesama personalia sekolah atau ahli pendididkan dari luar sekolah. Penyempurnaan juga mungkin bersifat menyeluruh atau hanya menyangkut bagian-bagian tertentu. Semua hal tersebut bergantung pada kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi. C. PENUTUP Kesimpulan Komponen adalah bagian yang integral dan fungsional yang tidak terpisahkan dari suatu sistem kurikulum karena komponen itu sendiri mempunyai peranan dalam pembentukan sistem kurikulum Karena kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Jadi, komponen kurikulum merupakan bagian-bagian atau unsur-unsur kurikulum yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Komponen-komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain. DAFTAR PUSTAKA Amalik, Oemar, Kurikulum Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2008. Hasibun,Lias, Kurikulum dan Pemikiran Pendidikan, Jakarta: Gaung Persada, 2010. SabdaSyaifuddin , Model Kurikuum Terpadu Iptek & Imtaq,Ciputat: Quantum Teaching.2006 Sodih Sukmadinata, Nana, Pengembangan Kurikulum “Teori dan Praktek”, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014.